Pentingnya Seks Edukasi untuk Anak dan Tips Mengajarinya

Anak dan Ibu. FOTO/Pixabay

Anak dan Ibu. FOTO/Pixabay

Seks edukasi seringkali terlewatkan untuk diajarkan orang tua kepada anaknya. Ini terjadi karena beberapa orang tua memang tidak mampu menjelaskan, bingung memulai dari mana, dan budaya yang masih menganggap bahwa seks edukasi tabu. Padahal, seks edukasi sangat penting dibicarakan antara orang tua dan anak agar nilai-nilai yang dipegang budaya tetap terjaga. Seperti tidak lazimnya seks bebas atau diluar pernikahan. Selain itu, dikhawatirkan anak akan mendapat seks edukasi dari pihak lain yang belum bisa dipertanggung jawabkan.

Perlu diketahui oleh semua orang tua fakta tentang seks edukasi. Pertama, mulailah membicarakan seks edukasi sejak dini setidaknya mengajarkan anak usia 2 tahun hingga dirinya mulai beranjak dewasa. Kedua, seorang anak bisa saja mendapat informasi mengenai seks dari sekolah, teman, dan media. Bisa saja informasi yang didapat belum tepat bagi usianya. Ketiga, orang tua sebaiknya tidak hanya bergantung pada sekolah menganai seks edukasi, jika anak mendapatkan pengetahuan dari sekolah coba tanyakan kepada anak dan tinjau kembali apakah sudah sesuai dengan usianya. Keempat, bahwa seks edukasi bukanlah mengajari anak tentang seks bebas atau mengarah perbuatan tersebut.

Mulailah membicarakan seks edukasi sejak dini

Langkah awal yang bisa dilakukan oleh orang tua dengan mengajarinya untuk memahami anggota tubuh. Dilansir dari laman About Kids Health, memahami tentang tubuh membantu anak berfikir positif tentang tubuhnya. Membahas seks  edukasi dengan anak bisa menjadi awal komunikasi secara terbuka antara orang tua dan anak. Hal ini penting agar anak mau terbuka atas pengalamannya saat menginjak usia remaja. Seperti masalah kecemasan, depresi, obat-obatan terlarang, dan masalah seksual.

Membahas seks edukasi dengan anak sedini mungkin memberikan efek yang begitu besar. Jika tidak membiasakannya maka anak akan sulit menerima dan tidak nyaman dengan seks edukasi, padahal pembicaraan ini penting ketika anak menemui hal-hal diluar yang belum diketahuinya misal saat dirinya melihat bayi atau perempuan hamil. Selain itu bisa menghindarkan anak dari informasi yang salah karena orang tua seharusnya menjadi sumber utama dan pertama bagi anak untuk mengurangi risiko kedepannya.

Jangka panjangnya, anak dapat menerima sebuah nilai yang dianut misalnya, menanamkan nilai-nilai seperti hubungan seksual hanya bisa dilakukan dengan adanya ikatan pernikahan. Jika seks edukasi tidak dimulai sejak dini dan dibicarakan secara logis maka anak cenderung menolak nilai tersebut. Selain itu orang tua juga memiliki kendali atas anaknya.

Seks edukasi aman untuk dibahas dan bukan hal tabu

Ketika orang tua cenderung untuk memilih diam tentang seks edukasi, hal ini salah besar. Seks edukasi bukan hal tabu lagi risiko yang ditimbulkan cukup besar. Jangan bergantung pada pendidikan sekolahnya, atau bahkan teman dan media lainnya. Sangat mungkin informasi yang diterimanya tidak lengkap bahkan salah. Media seringkali menggambarkan seks secara sensasional dan dangkal tanpa konteks dan komponen emosional.

Seks edukasi sangat aman dibahas daripada tidak, penelitian menunjukkan semakin sering anak terpapar gambar seksual di media, semakin besar kemungkinan anak terlibat perilaku seksual usia dini. Padahal seks edukasi yang sebenarnya tidak mengarah pada pergaulan bebas. Sebaliknya, anak yang menerima seks edukasi di rumah dari orang tuanya sangat kecil risikonya terlibat perilaku seksual pada usia dini.

Tips untuk membahas seks edukasi dengan anak

Tak jarang orang tua bingung memulainya, berikut tips membahas seks edukasi dengan anak yang dilansir dari laman About Kids Health.

  1. Pikirkan bahwa diri kita diposisi anak

Ketika kita memposisikan diri, kita akan mudah menyampaikan informasi apa yang sebenarnya dibutuhkan dan pengalaman apa saja yang bisa diceritakan kepada anak.

  1. Memberikan jawaban yang sesuai usianya

Penting bagi orang tua untuk menjelaskan dengan kalimat sederhana yang mudah dipahami anak. Orang tua tidak perlu membahas terlalu jauh ketika anak tidak menanyakannya (anak usia dini). Jangan membebani mereka dengan informasi.

  1. Jadi pendengar dan komunikasi dua arah

Dengarkan argumen dan pertanyaan anak, jawab pertanyaan anak dengan tenang dan tepat. Penting juga menanyakan kembali kepada anak mengenai informasi yang dia terima berasal darimana, bahkan memperbaiki informasi yang mereka dapatkan. Komunikasi dua arah memberikan anak waktu lebih untuk berfikir.

  1. Jujur

Ketika mendapatkan pertanyaan dari anak yang kita sendiri belum bisa menjawabnya, jangan asal menjawab dan berbohong. Karena, anak bisa saja mengerti ketika kita berbohong dan cenderung untuk menolak. Katakan jujur jika orang tua belum tahu jawabannya dan berikan argumen untuk mencari tahu bersama-sama.

  1. Perbanyak membaca

Banyak buku bagus yang membahas soal gender, seks edukasi yang sesuai dengan usia anak, reproduksi dan lainnya. Membaca akan menghindarkan orang tua dari rasa malu dan tabu soal seks edukasi.

  1. Jika anak tidak pernah bertanya tentang seks edukasi, mulailah percakapan

Beberapa anak mungkin malu untuk memulai bicara tentang seks edukasi. Mulailah untuk bertanya tentang seks edukasi yang diterimanya di sekolah. Mungkin bisa memulainya dengan pelajaran yang diterimanya seperti hewan dan reproduksinya sebelum beranjak soal manusia.

  1. Tetap tenang

Ketika anak mengajkan pertanyaan yang sangat privasi kepada orang tua, coba jelaskan dengan santai dan sedikit abstrak. Ketika anak bertanya “apakah setiap malam ibu dan ayah tidur bersama melakukan hubungan seksual?” jawablah dengan tenang, bahwa tidur bersama bukan berarti melakukan hubungan seksual.

  1. Seks edukasi adalah pembahasan berkelanjutan

Ingatlah sebagai orang tua untuk memberikan seks edukasi dari usia dini hingga anak menuju dewasa. Maka tetap jaga komunikasi dengan mereka.

 

 

 

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *