Parental Burnout: Waspada Kelelahan Orang Tua Berakibat Buruk pada Pengasuhan Anak

Ibu dan anak. FOTO/Pixabay

Ibu dan anak. FOTO/Pixabay

Memiliki peran sebagai orang tua bisa menjadi pengalaman luar biasa. Akan terjadi perubahan yang cukup signifikan dari kebiasaan sebelum menjadi orang tua. Beban kerja menjadi bertambah, selain pekerjaan profesional dan domestik kini peran dominan sebagai orang tua yang tidak bisa dianggap peran tambahan menuntut orang tua seimbang dalam menjalaninya. Akibatnya orang tua cenderung kelelahan dan stress, jika tidak segera diselesaikan akan berakibat buruk terhadap pengasuhan anak karena kondisi fisik dan emosional tidak stabil.

Penelitian yang diterbitkan Clinical Psychological Science menunjukkan, kelelahan orang tua memiliki konsekuensi serius. Penelitian yang melibatkan 918 dan 822 peserta dalam tiga kali survei online per tahun mendapatkan respon dan hasil yang lebih parah dari sebelumnya. Dampak dari kelelahan tersebut cukup mengejutkan, diantaranya keinginan melarikan diri, fantasi meninggalkan anak dan tidak ingin mengasuhnya, kekerasan verbal dan psikologis seperti ancaman dan hinaan, kekerasan fisik seperti memukul atau menampar yang ditujukan kepada anak-anaknya.

Para peneliti tak menduga bahwa penelitian tersebut akan mendapat respon yang jujur dari para responden. Tentu alasan utama sifat manusia yang akan terlihat buruk jika mengakuinya dan akan terlihat gagal menjadi orang tua.

Apa itu parental burnout? Orang tua wajib tahu

Parental burnout diartikan sebagai sindrom kelelahan, ditandai dengan perasaan kewalahan, kelelahan secara fisik dan emosional, memiliki jarak emosional dengan anak, dan perasaan menjadi orang tua yang tidak pecus.

Menurut Mary C Kimmel, co-director Program Psikiatri Perinatal di University of North Carolina, kelelahan yang disebabkan stress yang berlebihan dan berkepanjangan dapat memanifestasi  emosional, fisik, dan mental. Kelelahan orang tua karena mengasuh anaknya terjadi karena orang tua memaksimalkan pengasuhan itu sendiri. Kecenderungan ini sering dialami ibu, ketika seorang ibu memberikan dukungan fisik, emosional dengan maksimal dalam mengasuh anaknya maka akan mudah mengalami kelelahan ditambah dengan kegiatan domestik bahkan pekerjaan profesionalnya.

Konstruksi peran ibu membuatnya memberikan tuntutan pada dirinya sendiri dalam mengasuh anak. Peran yang sempurna yang kadang tidak realistis.

Definisi soal burnout masih sering mengacu pada pekerja atau staff, parental burnout yang dialami orang tua karena mengasuh anak masih dianggap tabu. Masalahnya selama ini mengasuh anak hanya difokuskan pada manfaatnya, seperti mengurangi stress, sangat memuaskan, dan menyenangkan. Contoh kecilnya mengganti popok jam 2 pagi, apakah itu selalu menyenangkan? Padahal kondisi itu tidak mudah, dan hampir tidak diperhatikan dampaknya. Orang tua khsusunya ibu sangat sulit membicarakan masalah kesenjangan gender mengenai beban mental mengurus anak dan rumah tangga.

Ciri-ciri orang tua yang mengalami parental burnout

Dilansir dari laman Parents, bisa terjadi karena masalah yang kecil tapi terus-menerus tergantung pada kondisi kehidupan lainnya, selain itu kurangnya waktu untuk beristirahat dan dukungan yang didapatkan. Berikut ciri-ciri dan gejalanya:

  1. Menarik diri dari orang lain
  2. Kehilangan minat dengan hal-hal yang disukai
  3. Kesulitan tidur
  4. Perubahan nafsu makan
  5. Mudah lelah dan tidak memiliki energi
  6. Rasa khawatir yang berlebihan
  7. Merasa putus asa
  8. Cenderung emosional, mudah sedih, marah dan cemas
  9. Merasa sangat buth istirahat
  10. Cenderung tempramen
  11. Merasa seolah-olah tgas yang dilakukan diluar batas kemampuan
  12. Tidak ingin didekati dan perlu waktu sendiri
  13. Tidak ingin melakukan aktivitas apapun ketika bangun tidur
  14. Merasa sangat kesal dengan anak, pasangan dan dunia
  15. Merasa bersalah jika berkata jujur ingin istirahat karena justifikasi orang lain

Dampak parental burnout terhadap pengasuhan anak

Perkembangan psikologis anak tergantung pada hubungan dan keterikatan orang tua. Itulah mengapa parental burnout dapat mengancam keberhasilan dalam mengasuh anak. Ketika orang tua mengalami kelelahan dan tidak segera diatasi maka peran mengasuh anak seperti memberikan respon, kepedulian, dan kesabaran tidak mungkin bisa dilakukan kepada anak. sehingga memicu kekerasan verbal bahkan fisik.

Masalah akan semakin parah bagi orang tua yang mengasuh anak dengan diagnosis psikologis tertentu. Seperti anak yang memiliki masalah kecemasan, OCD, ADHD, depresi, atau gangguan spektrum autisme.

Bagaimana mengatasi parental burnout?

  1. Meminta bantuan

Penting bagi orang tua yang merasa sangat kelelahan untuk meminta bantuan kepada pasangan, orang tua, atau jasa pengasuh untuk membantu mengasuh anak. komunikasikan dan bernegosiasi bahwa anda butuh waktu untuk beristirahat dan dukungan untuk merasa lebih baik.

  1. Bicarakan masalah anda

Ceritakan apa yang sedang dialami kepada orang yang dapat dipercaya. Seperti teman dekat, pasangan, keluarga, atau terapis. Luangkan waktu untuk merasakan kondisi mental dan kesehatan atau melakukan terapi penerimaan dan komitmen akan membuat lebih baik. Atau bisa bertemu dengan teman-teman, memanjakan diri dengan perawatan bisa dilakukan.

  1. Istirahat

Sistem fisiologis fisik, mental, dan emosional kita membutuhkan waktu istirahat agar berfungsi dengan baik. Ketika anak sedang tidur, cobalah untuk ikut beristirahat jangan lakukan pekerjaan lain terlebih dulu.

  1. Ambil tindakan

Jika sudah mengambil jeda untuk beristirahat  namun, dalam waktu dua minggu tidak ada perubahan dan semakin parah cobalah untuk menghubungi dokter atau ahli yang dapat membantu anda. Karena jika dibiarkan akan semakin buruk.

 

 

 

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *