Mom Shaming: Perilaku Mempermalukan Sesama Ibu

Ibu dan Anak. FOTO/Pixabay

Ibu dan Anak. FOTO/Pixabay

Peran baru menjadi seorang ibu akan menguras tenaga, waktu, dan pikiran. Ibu akan memikirkan bagaimana cara mengasuh anak yang baik serta memastikan anak tumbuh sehat secara fisik, mental, dan emosional. Sayangnya, pilihan pengasuhan dan keputusan lainnya berujung kritik dari orang sekitar bahkan keluarga sendiri. Mom  shaming kerap kali diterima ibu ketika saling bertemu ibu lain. Apakah ibu salah satu korban mom shaming? Atau tanpa sadar pernah melakukannya kepada ibu lain?

Berdasarkan survey Beech- Nut, 80% ibu milenial mengatakan mereka telah dihakimi dan dipermalukan oleh orang yang dikenal. 70%  ibu mengatakan isu soal mom shaming semakin memburuk. 60% ibu mengaku pernah melakukan mom shaming terhadap ibu lainnya, dan mereka yang melakukannya cenderung pernah diperlakukan demikian. Data tersebut dhasil dari survei 2017, terdiri dari 1000 ibu milenial di AS yang memiliki anak usia 0-5 tahun.

Laporan lain dari Rumah Sakit Anak C.S Mott Michigan, hampir dua pertiga ibu telah dipermalukan atas keputusan pengasuhannya , mulai dari cara mendisiplinkan anak, makanan yang diberikan pada anak.

Apa itu mom shaming dan bagaimana bisa terjadi?

Mom shaming adalah perilaku mengejek, merendahkan, serta komentar kasar dengan ekspresi tidak menyenangkan yang ditujukan kepada ibu lainnya. Biasanya kritikan seputar pemilihan metode persalinan, pola pengasuhan anak, cara menyusui, pengggunaan susu formula, atau apapun yang berkaitan dengan anak.

“kok sesar sih, kan bisa dicoba lahiran normal dulu!,”

“ya pantes aja ASInya dikit, engga rajin menyusui sih,”

“kok pakai susu formula?, nanti anaknya sakit-sakitan lo, merknya sekalian yang bagus,”

Kira-kira seperti itu kalimat-kalimat mom shaming yang dilontarkan sesama ibu untuk menjatuhkan atau mempermalukan ibu lainnya. Pelaku yang melakukan mom shaming biasanya menganggap dirinya lebih hebat dan berhasil dibanding ibu lainnya.

Menurut Melissa Divaris Thompson seorang terapis di NYC yang berpengalaman menangani ibu baru menyebutkan, beberapa ibu yang mempermalukan ibu lainnya karena menganggap pilihan yang dilakukannya lebih baik. Selain itu karena merasa ragu atas pilihan pengasuhan yang dilakukan, dan membenci pilihan ibu lain agar dirinya merasa lebih aman.

Secara umum, mom shaming yang sering dilakukan adalah gaya pengasuhan, karena sudah dianggap sebagai keputusan dengan dasar paling benar. Ketika ada gaya pengasuhan yang berbeda dan bertentangan akan mendorong pelaku mom shaming melakukan tindakan mempermalukan dan mengkritik ibu lain.

Mengapa pilihan  pola asuh sering diklaim kebenarannya?

Menurut Dr Corrin Cross, juru bicara American Academy of Pediatrics (AAP) alasan soal pesan-pesan pengasuhan  dan ketakutan mendapat informasi yang salah terus dilanggengkan karena ada pasar yang nyata dan menguntungkan suatu perusahaan tertentu. Dari mulai situs web, influencer di Youtube menyampaikan suatu produk, ataupun memberi tahu bagaimana  cara mengasuh dan menjadi orang tua.

Karena sudah masuk dalam ranah komersial akhirnya menjadi lebih masif. Contohnya soal pemberian MPASI, pesan-pesan soal memberikan MPASI dengan cara tertentu dimulai dari bubur , sayuran hijau, sayuran merah dan adanya batasan-batasan lain karena bisa menyebabkan bayi menolak makanan. Konstruksi soal urutan spesifik dan harus dipatuhi telah dijejalkan kepada ibu-ibu yang sedang mencari informasi soal pola asuh. Padahal tidak semua realistis, mengapa ibu tidak memberikan MPASI yang sudah tersedia dirumah yang terpenting memenuhi kebutuhan bayi. Bukan mengikuti standar konstruksi pesan yang dilanggengkan.

Selain itu dampak dari sosial media turut berpengaruh, banyak platform yang dapat diakses para ibu soal pola asuh. Saking banyaknya sampai bingung mana yang akan dipercaya. Akhirnya karena tidak yakin dengan apa yang dilakukan, maka terjadi penolakan dan perlawanan ketika melihat pola asuh yang berbeda. Terjadilah mom shaming klaim kebenaran atas pola asuh.

Dampak mom shaming terhadap ibu dan anak

Mom shaming akan berdampak pada kesejahteraan ibu dan anak, karena ibu merasa tertekan  dan stress menentukan pola pengasuhan yang benar. Berikut dampak dari mom shaming.

  1. Cemas karena merasa semua tindakan yang berkaitan dengan pengasuhan yang salah sehingga memiliki dampak buruk pada bayi
  2. Kekhawatiran, rasa bersalah, keraguan tertinggal jauh dengan informasi
  3. Kehilangan fokus dengan apa yang dilakukan
  4. Merasa terisolasi hingga depresi pasca persalinan
  5. Cenderung menarik dirinya sendiri begitupun anaknya untuk membatasi bertemu dengan orang lain

Cara menghindari dan terhindar dari perilaku mom shaming

Menghindari agar tidak menjadi korban mom shaming ataupun terhindar dari perilaku mom shaming bisa dimulai dengan menghilangkan tekanan dan percaya pada diri sendiri. Ibu perlu menyaring informasi, kritikan, dan komentar lainnya. percaya pada naluri ibu. Selain itu bisa membatasi penggunaan media sosial, agar tidak  terlalu stress dengan kebenaran mutlak soal pola pengasuhan. Ibu bisa menghubungi dokter atau ahli yang dapat dipercaya dan cocok sehingga membuat ibu yakin dan berkembang. Meluangkan waktu untuk eksplorasi nilai-nilai yang menjadi acuan juga perlu dilakukan. Ingatlah anak kita cukup tangguh dan apa yang ibu berikan adalah terbaik baginya.

Kritik dari sesama ibu tidak semua bisa disalahkan, ada kemungkinan benar dan baik untuk ibu. Namun, kritikan harus disampaikan secara tepat dan membangun. Selain itu seorang ibu harus mampu memposisikan diri apakah perlu memberi nasehat atau pendapat, pastikan kedua hal itu disampaikan ketika diminta oleh ibu lainnya.

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *