Mengenal Fase Terrible Two pada Anak dan Cara Mengatasinya

Anak Menangis. FOTO/Pixabay

Anak Menangis. FOTO/Pixabay

Orang tua sering kebingungan dan panik saat menghadapi anak yang sangat rewel. Bahkan sering berfikir dan membandingkan waktu usianya setahun baik-baik aja, diam, mudah diatur, jarang menangis, dan tidak rewel. Semakin besar bukannya tambah penurut, tapi semakin jadi rewelnya. Alhasil orang tua bukan malah menenangkan justru memarahi anak dan membuatnya semakin frustasi.

Wajib dimengerti semua orang tua, ketika anak memasuki usia 2 tahun dan mengalami perubahan sikap yang dianggap rewel, cengeng, pemarah itu artinya anak sedang memasuki fase terrible two. Lalu apa itu terrible two? Mengerikan sekali kedengarannya.

Terrible two, fase dimana anak akan terlihat sangat cengeng dan rewel. Namun,  perkembangan ini sangat normal biasanya dialami ketika anak berusia 18 bulan hingga 3 tahun bahkan beberapa anak akan mengalaminya hingga usia 4 tahun. Perubahan suasana hati bahkan marah yang dialami anak karena dirinya ingin lebih mandiri namun masih kesulitan melakukannya.

Mengapa terrible two bisa terjadi?

Anak yang berusia sekitar 1 sampai 3 tahun sudah mencapai milestone, atau mengalami pertumbuhan secara fisik dan intelektual. Mulai dari berjalan, berbicara mengucapkan beberapa kosa kata, memanjat, memiliki pendapat, belajar tentang emosi, mengerti tentang kepemilikan (berbagi & bergiliran). Pada masa ini, secara alami anak ingin melakukan dan mengeksplorasi  apa yang mereka inginkan secara mandiri.

Karena keterbatasan keterampilan fisik, verbal, dan emosional yang belum berkembang secara sempurna anak cenderung frustasi ketika gagal mengkomunikasikan dan melakukan apa yang mereka inginkan.

Tanda-tanda anak mengalami terrible two

Beberapa tanda-tanda yang ditunjukkan anak ketika memasuki fase terrible two sebagai berikut

  1. Tantrum

Biasanya anak akan mengamuk, merengek, bahkan berteriak. Selain itu beberpa tindakan fisik seperti memukul, menendang, melempar barang dan lain-lain. Berdasarkan penelitian, diperkirakan 75 persen tantrum yang  dialami anak usia 18 bulan hingga 60 bulan berlangsung kurang lebih 60 menit.

  1. Menolak dan Melawan

Fase terrible two anak mengalami perkembangan keterampilan dan kemampuan baru.  Tentu saja, mereka ingin menguji dan menunjukkan kepada orang tua dan sekelilingnya dengan cara menolak dan melawan. Beberapa perilaku yang ditunjukkan diantaranya kemandirian , ekspresi kekuasaan , dan penolakan.

Kemandirian, ada beberapa kebiasaan yang dulu dilakukan dan diterima dengan baik oleh anak misalnya ketika ingin menyebrang jalan tiba-tiba anak menolak dan marah tidak mau digandeng tangannya. Bersikeras melakukan kegiatan yang biasa dilakukan orang tuanya, seperti menyapu atau mengambil kain pel ketika dirinya menumpahkan air.

Ekspresi kekuasaan, ditandai dengan menunjukkan kepemilikan misalnya mainan yang tidak boleh disentuh orang lain, beberapa tempat yang menjadi kekuasaanya misalnya tempat duduk atau kasur.

Penolakan,  ketika sedang menangis dan orang tua mencoba menghibur untuk memberi makanan kesukaan atau mainan cenderung menolak dan berkata “tidak mau”, selain itu menolak ketika disuruh orang tua, tidak mau mandi dan menolak baju yang  dipilihkan ibu, bahkan menolak disentuh ketika sedang marah.

  1. Mood swing

Perubahan suasana hati yang begitu drastis. Dalam satu menit anak bisa sangat bahagia dan sangat manis, menit berikutnya menjerit, menangis. Semua itu terjadi karena anak merasa frustasi karena tidak berhasil menegosiasikan dan melakukan keinginannya  karena keterbatasan keterampilan.

Semua tanda-tanda dan perilaku yang dilakukan anak pada fase terrible two bertujuan mengeksplorasi keterampilan dan melihat reaksi orang tua ketika anak sudah memiliki kontrol terhadap keinginannya sendiri.

Cara mengatasi

Beberapa cara yang dapat dilakukan orang tua untuk membantu anak melalui fase terrible two dengan mencegah pemicunya.

  1. Konsisten dengan jadwal tidur

Usahakan untuk tidur teratur sesuai kebiasaan. Orang tua pasti paham kondisi anaknya yang mulai kelelahan, rewel, dan kapan harus beristirahat. Tetap konsisten dengan jadwal tidur akan membuat emosi anak lebih stabil.

  1. Konsisten dengan jadwal makan

Jauhkan makanan ringan terlebih dahulu ketika sudah waktunya makan agar anak dapat makan tepat waktu sesuai kebutuhan nutrisi. Kondisi lapar juga memicu suasana hati anak.

  1. Ciptakan lingkungan yang aman

Jauhkan benda-benda berbahaya yang dapat melukai anak. Jauhkan dari jangkauannya.

  1. Biarkan anak memilih

Biarkan anak tetap memilih apa yang diinginkan, namun tetap membatasinya. Seperti  memberi dua penawaran ingin makan apel atau jeruk, pakai baju biru ata kuning. Jangan memberinya banyak pilihan hingga anak tidak dapat mengontrol keinginannya, selain itu banyak pilihan membuat anak terbebani.

  1. Tetap tenang

Ketika anak sedang marah, hindari untuk memarahi dan berteriak agar anak tidak meniru. Cobalah tenang, duduk sambil mengatur nafas sehingga dapat merasakan dan empati apa yang telah terjadi pada anak.

  1. Memaafkan dan mengalah

Ketika kehilangan fokus, orang tua bisa diam dan menepi terlebih dahulu namun tetap berikan pengawasan agar tidak melakukan hal berbahaya. Biarkan anak berekspresi atas kemarahannya. Ketika sudah mereda, dekati dan berikan perhatian dan tunjukkan kepedulian.

Menghadapi anak pada fase terrible two memang tidak mudah, orang tua perlu menanamkan bahwa anak tidak sedang berbuat jahat dan ingin menyusahkan orang tua. Sebaliknya, anak sedang mengekspresikan kemandirian namun dengan keterbatasan keterampilannya yang sedang berkembang. Hindari kemarahan dan kekerasan namun tetap menerapkan batasan dan pengawasan. Dengan begitu anak dapat melewati fase terrible two dan membantu membangun kepercayaan diri mereka.

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *