Hasil Studi Menemukan Hukuman Fisik Tidak Akan Merubah Perilaku Anak

Anak Sedih. FOTO/Pixabay

Anak Sedih. FOTO/Pixabay

Sebagian orang tua mungkin masih melakukan hukuman secara fisik kepada anaknya. Alih-alih ingin memberi konsekuensi dan membuatnya jera, justru tindakan ini akan memperburuk keadaan. Hukman fisik biasanya berupa pukulan, tendangan, menampar, atau mencubit.

Kondisi alamiah manusia dilahirkan dengan berbagai respon terhadap rangsangan. Seiring bertambahnya usia  respon bergabung dengan pengalaman membentuk perasaan emosional. Bagaimanapun juga, perasaan akan mempengaruhi perilaku.  Ketika anak mendapat hukuman fisik, akan timbul perasaan yang tidak diinginkan seperti kemarahan, kesusahan, ketakutan, dan rasa malu. Hal ini memicu anak melakukan kekerasan untuk menyelesaikan masalah. Dan bisa saja akan berlaku kasar kepada anak dan pasangan dimasa depan.

Dilansir dari laman VeryWell Family, hasil study yang diterbitkan The Lancet hukuman fisik selain berbahaya terhadapa fisik anak juga memperburuk perilaku  dan tidak dapat memeperbaiki perilaku anak.  Hal ini berlaku pada semua jenis kelamin, ras, budaya, dan gaya pengasuhan anak.

Sebenarnya sudah banyak penelitian yang dilakukan dengan topik yang sama selama 20 tahun terakhir ini. Yang berbeda dari penelitian kali ini adalah peneliti melihat lebih dari 1600 penelitian sebelumnya dan menindaklanjuti dampak hukuman fisik. Setidaknya 69 data yang dianalisis menemukan enam temuan utama. Berikut fakta mengenai hukuman fisik yang telah ditemukan.

Dampak hukuman fisik terhadap anak

  1. Hukuman fisik meningkatkan perilaku buruk

Bukan memperbaiki perilaku justru hukuman fisik seperti memukul dapat meningkatkan perilaku anak semakin buruk. Beberapa perilaku buruk yang akan timbul diantaranya menyakiti orang lain dengan sengaja, perilaku menantang, perilaku antisosial seperti merusak properti, berbohong, dan mencuri.

Anak yang mendapat hukuman fisik akan memiliki sifat menghindari orang yang menghukumnya bahkan melakukan cara apapun agar tidak tertangkap untuk menghindari hukuman. Hal ini berlaku dalam jangka panjang.

  1. Hukuman fisik tidak terkait dengan perilaku positif

Dari 69 kasus yang dianalisis tidak satupun menunjukkan perbaikan mulai dari perilaku, perhatian, kecerdasan, hubungan, perilaku sosial, atau respon stress. Penelitian ini tidak setuju dengan klaim bahwa hukuman fisik efektif mengubah perilaku anak menjadi baik.

  1. Hukuman fisik meningkatkan keterlibatan layanan perlindungan anak

Orang tua yang melakukan hukuman fisik berisiko terlibat dengan layanan peerlindungan anak. kekerasan yang dilakukan juga dapat dikategorikan sebagai pelecehan terhadap anak. Jika orang tua melakukan hukuman fisik sama halnya mlanggar hukum perlindungan anak.

  1. Hukuman fisik membuat perilaku anak dimasa depan semakin buruk

Berdasarkan hasil penelitian, hubungan hukuman fisik dengan jangka waktu yang terpisah periode yang lama, ternyata membuat anak tetap berperilaku buruk terlepas dengan berbagai faktor lainnya.

Sedangkan banyak orang tua mengklaim alasan mreka melakukan hukuman fisik karena perilaku buruk anaknya, padahal hal ini adalah fakta yang terbalik. Para peneliti mengkonfirmasi anak-anak yang berperilaku menantang karena mengalami hukuman fisik sebelumnya.

  1. Gaya pengasuhan tidak dapat mengubah dampak hukuman fisik

Gaya pengasuhan atau pola asuh tidak dapat mengubah efek negatif hukuman fisik walaupun dalam jangka waktu yang panjang. Anak dengan orang tua yang responsif dan hangat masih tetap menunjukkan kesulitan secara akademis walaupun telah mendapat dukungan.

Penelitian ini juga menyanggah teori normatifitas budaya yang menyatakan efek hukuman fisik tidak seburuk ketika budaya mnganggap normal sebagai bentuk kedisiplinan.

  1. Hukuman fisik salah satu faktor kegagalan anak

Peneliti menemukan anak-anak yang sering dipukul menunjukkan masalah dalam perilaku dan hasil akademik yang memburuk. Hal ini berbanding terbalik dengan orang tua yang menerapkan kedisiplinan tanpa tindakan fisik.

Apa yang bisa dilakukan orang tua agar tidak mlakukan hukuman fisik?

Selain negara telah mengatur undang-undang perlindungan anak, orang tua juga bisa melakukan beberapa cara diantaranya membicarakan masalah dengan anak dan memberikan ccontoh perilaku yang baik di depan anak.

Dilansir dari laman Psychology Today, menggunakan kata-kata untuk menjelaskan perasaan orang tua harus dilakukan. Karena pengaruh bahasa bisa dipahami anak jauh sebelum anak-anak dapat berbicara. Artinya pengaruh dari kata-kata akan memberikan dampak yang nyata terhadap pemahaman dan perilaku anak.

Selanjutnya berikan contoh yang baik, salah satu faktor terpenting dalam pembentukan struktur karakter dan ksehatan psikologis. Bertindak dan berbicaralah dengan baik agar anak berusaha meniru apa yang dilakukan orang tuanya.

 

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *