Cara Membahas Seks Edukasi dengan Anak Sesuai Usia

keluarga.FOTO/Pixabay

keluarga.FOTO/Pixabay

Seks edukasi pada anak membutuhkan pembahasan  berkelanjutan. Artinya ketika orang tua sudah memulainya sudah pasti harus melanjutkan hingga anak beranjak dewasa. Alasannya, seks edukasi itu bertahap.  Ada 2 poin penting, pertama saat orang tua berbicara seks edukasi pastikan menjelaskan sesuai dengan perkembangan anak. Kedua, orang tua tidak perlu menjelaskan semuanya sekaligus, misalnya anak-anak lebih cenderung tertarik dengan kehamilan dan bayi dibandingkan perilaku seksual. Berbicara seks edukasi sejak dini merupakan strategi terbaik agar anak terhidar dari risiko masalah remaja. Seperti yang telah dibahas secara detail di artikel sebelumnya.

Memang banyak orang tua merasa canggung dan gugup membicarakan seks edukasi dengan anak kekhawatiran tidak bisa menjawab juga menjadi masalah utama. Sebaiknya ketika orang tua ragu untuk menjawab, jujurlah pada anak kalau memang belum menemukan jawaban dan konfirmasi ulang darimana anak mendapat informasi tersebut. Para ahli sepakat untuk memasukkan seks edukasi dalam pembahasan sehari-hari dengan konsep-konsep tertentu setiap tahapan usia anak.

Pembahasan seks edukasi sesuai dengan tahapan usia anak

Setidaknya ada 5 tahapan yang dibagi berdasarkan usia anak. Secara umum, anak diatas 1 tahun sudah semestinya diajarkan soal seks edukasi dan bertahap hingga usia 18 tahun. Berikut pembahasan yang harus dilakukan oleh orang tua.

  1. Balita, Usia 13 bulan hingga 2 tahun

Tahapan balita usia 13 bulan hingga 2 tahun biasanya sudah bisa menyebutkan anggota tubuhnya termasuk alat kelamin. Menurut Silverberg dilansir dari laman Today’s Parent saat menyebutkan tetap gunakan nama sesungghnya. Mengajari anak dengan menyebut nama sesungguhnya seperti vagina, penis, pantat, dan puting mungkin terdengar ngeri tapi tetaplah tenang. Menyebutkan nama sesungguhnya penting untuk mengkomunikasikan jika terjadi masalah cedera atau pelecehan seksual yang dialami anak. Menyebutkan secara normal seperti bagian tubuh lainnya, dapat meningkatkan percaya diri dan citra positif  anak terhadap tubuhnya.

Mamasuki usia 2 tahun, anak sudah tahu perbedaan antara perempuan dan laki-laki dan dapat menyebutkan orang yang ditemuinya perempuan atau laki-laki. Perlu bagi orang tua untuk memberinya pemahaman tentang identitas gender tidak ditentukan oleh alat kelamin.

Selain itu, diusia ini anak akan mengeksplorasi atau memegang bagian tubuhnya. Jelaskan pada anak kapan dan dimana waktu yang tepat. Karena hal tersebut adalah privasi.

  1. Preschoolers, Usia 2 tahun hingga 5 tahun

Fokus utama pada usia ini adalah belajar batasan tentang pantas dan tidak pantas untuk disentuh. Sangat penting bagi anak untuk bertanya sebelum menyentuh orang lain. Misalnya saat bermain yang melibatkan sentuhan, menggelitik, kapan boleh dan tidak boleh naik ke pangkuan. Hal ini bertujuan untuk menciptakan persetujuan dan pemahaman yang lebih intuitif.

Jelaskan kepada anak tentang tidak semua orang boleh memegang bagian tubuhnya termasuk alat kelamin tanpa persetujuannya agar mereka dapat menjaga dirinya tetap aman. Penting membuat anak terbuka agar memberi tahu orang tua tentang pengalaman yang dialaminya.

Diusia ini tentu anak memiliki rasa ingin tahu tentang tubuh satu sama lain, sebagai orang tua manfaatkan kesempatan ini untuk mendiskusikan aturan dan nilai-nilai yang kita pegang. Bicaralah secara eksplisit misalnya soal kapan boleh untuk melepas baju. Selain itu, seringkali anak bertanya bagaimana bayi dibuat, jawab saja “bayi dibuat ketika dua orang dewasa menyatukan sperma dan sel telur, atau mereka mendapat sel sperma dan sel telur dari orang lain”. Menurut Silverberg penting untuk tidak berbohong, menindaklanjuti dan tidak menolak pertanyaan-pertanyaan tersebut. Saran bagi orang tua sebaiknya eksplorasi kisah tentang bayi atau kisah kelahirannya.

  1. School Age Children, Usia 6 tahun hingga 8 tahun

Orang tua bisa memulai membahas tentang penggunaan komputer dan media digital lainnya. Bagaimana agar mereka tetap aman menggunakan internet. Jelaskan soal boleh dan tidak boleh berbagi foto secara online serta ketika anak menemukan konten yang membatnya tidak nyaman. Seperti konten atau website pornografi, jelaskan kepada mereka bahwa situs tersebut hanya untuk orang dewasa.

Usia ini anak juga cenderung mengeksplorasi tubuhnya, katakan kepada mereka meskipun itu normal hal tersebut harus dilakukan secara pribadi dan tetap menjaga kebersihan. Agar anak tetap aman dan terhindar dari pelecehan seksual.

Mulailah bicara soal pubertas, untuk anak usia 6 tahun bisa diskusikan bagaimana tubuh akan berubah saat kita tumbuh semakin besar dengan memperlihatkan fotonya saat kecil dengan sekarang. Pubertas biasa dialami sekitar usia 10-12 tahun, dengan beberapa tanda perubahan fisik, menstruasi pada perempuan. Disarankan pada usia ini untuk memberikan buku yang menjadi referensi sesuai dengan usia anak untuk mempersiapkan masa pubertas yang akan dialaminya.

  1. Pree-Teens, Usia 9 tahun hingga 12 tahun

Pada usia ini terjadi perubahan emosional dan sosial karena orang tua akan selalu mengatakan normal atas perubahan dan pubertas yang dialami anak khususnya perempuan. Bagaimana dirinya akan menerima dan berjuang atas tubuhnya. Sebaiknya orang tua tetap memahami keadaanya dengan menanyakan apa yang mereka alami dan bagaimana perasaanya.

Mulai berikan pemahaman soal seks yang aman dan tidak aman, penggunaan kontrasepsi, kehamilan, dan penyakit infeksi menular seksual. Mereka perlu tahu bukan berarti aktif secara seksual.

Selanjutnya keamanan dalam berinternet, tingkatkan pengetahuan anak mengenai bullying dan sexting. Jelaskan risiko jika mereka berbagi foto yang tidak pantas dan hal-hal yang menyangkut pornografi.

  1. Teenagers, Usia 13 tahun hingga 18 tahun

Anak harus mendapatkan informasi secara rinci mengenai menstruasi dan mimpi basah bahwa itu normal dan sehat. Mereka harus tahu menganai kehamilan, IMS, kontrasepsi dan penggunaanya. Selain itu mempelajari seks yang aman juga akan mempelajari tentang risiko alkohol dan obat-obatan terlarang.

Penjelasan soal hubungan yang sehat dan tidak sehat saat berpacaran termasuk tekanan dan kekerasan, memahami arti persetujuan dalam hubungan seksual dan bagaimana bernegosiasi dan penolakan dalam mengakhiri hubungan.

Orang tua harus paham pada fase ini, remaja akan cenderung tertutup. Namun jika orang tua telah berbicara lebih awal tentang seks kemungkinan mereka akan lebih terbuka ketika terjadi sesuatu yang berbahaya pada dirinya atau sedang mengalami kekhawatiran.

 

 

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *