Apakah Orang Tua Perlu Membedakan Mainan Anak Perempuan dengan Laki-Laki?

Mainan Balok. FOTO/Pixabay

Mainan Balok. FOTO/Pixabay

Ketika membeli mainan biasanya orang tua akan memilih boneka untuk anak perempuan dan mobil-mobilan untuk anak laki-laki. Budaya itu sudah menjadi kebiasaan dan secara naluri dipercaya orang tua sebagai pilihan yang tepat. Namun, sudah tepatkah cara yang kita lakukan dengan memberi perbedaan mainan pada anak kita? Jika anak perempuan diberikan mainan cenderung pasif, pengasuhan dengan dasar keindahan, dan laki-laki diberi mainan yang agresif cenderung melibatkan aksi.

Melansir dari laman Katie Lear, Faktanya Play Therapists menyebutkan “Toys Are Child’s Words” artinya sangat penting sebagai orang tua untuk membekali anak dengan kosa kata yang sangat beragam dan seluas-luasnya. Jadi semakin anak-anak dikenalkan berbagai jenis mainan maka akan semakin mendapat banyak manfaat.

Mengapa terjadi perbedaan mainan anak perempuan dan laki-laki?

Pertama, terjadi karena budaya stereotip gender sejak usia dini. Orang tua mendidik anak perempuan dan laki-laki secara berbeda. Pasar juga mengkonstruksikan itu, lihatlah toko mainan, tentu kita akan menemui lorong yang tampak cerah berwarna pink dan dipenuhi boneka, barbie dan mainan-mainan yang dilekatkan dengan perempuan. Lalu lorong sebelahnya diisi dengan warna-warna biru berisi robot dan mobil-mobilan yang dianggap sebagai mainan laki-laki. Itulah mengapa pink selalu untuk perempuan dan biru untuk laki-laki.

Kedua, kondisi alamiah. Dilansir dari laman Family Corner kondisi alamiah anak perempuan dan laki-laki memang memiliki perbedaan secara hormonal, neurologis dan fisik. Para ahli percaya hal itu sudah terjadi sejak dalam rahim. Anak perempuan tertarik dengan lebih tertarik dengan wajah dan orang dibanding anak laki-laki. Anak perempuan juga dianggap memiliki kemampuan bahasa yang lebih menonjol maka anak perempuan lebih sering bermain peran dengan menggunakan boneka. Sedangakan anak laki-laki dilahirkan dengan massa otot yang lebih banyak sehingga lebih suka bermain melibatkan fisik dan ketrampilan mekanik, spasial seperti bermain mobil-mobilan dan membangun balok. Hal itu didukung oleh pernyataan Profesor Simon Baron-Cohen seorang ahli Psikopatologi Perkembangan Universitas Cambridge mengatakan otak anak perempuan dan laki-laki berbeda. Anak perempuan cenderung lebih empati dan peka terhadap orang lain. Namun, dirinya juga menambahkan aturan ini tidak berlaku untuk seluruh anak karena setiap anak dapat bereaksi berbeda.

Bukankah jika mainan tidak dibedakan akan membuat anak menjadi bingung?

Belum ada penelitian yang menunjukkan bermain mainan memberi pengaruh pada jenis kelamin. Perlu diketahui sejak umur 2 tahun anak sudah menyadari jenis kelaminnya. Psikolog berpendapat anak belajar gender dengan cara mengamati perilaku orang dewasa, sementara mainan berfungsi untuk membantu mengekspresikan perasaan mereka, mengeksplorasi ide-ide baru dan meninjau apa yang telah mereka pelajari. Perlu diketahui mainan tidak membentuk identitas gender.

Perbedaan jenis mainan memiliki fungsi yang berbeda dalam mengasah skill anak. Anak-anak bermain untuk belajar tentang dunia dan mengembangkan kemampuan kognitif melalui mainan tersebut. Mainan yang dianggap untuk anak perempuan dan laki-laki memiliki fungsi yang berbeda-beda dan mendorong untuk melatih berbagai ketrampilan. Jika orang tua ingin anak tumbuh dengan baik secara ketrampilan kognitif, kreatif, dan spasial yang kuat maka tidak perlu ragu memberi mainan yang beragam.

Faktanya, orang tua akan melihat lebih wajar ketika anak perempuan lebih tertarik bermain dan menikmati olahraga maskulin yang diidentikkan dengan peran anak laki-laki dan akan terlihat tomboi dibandingkan jika kondisi tersebut dibalik dengan anak laki-laki yang lebih suka bermain peran. Sehingga takut berpengaruh dengan gendernya. Tentu saja pemikiran ini terjadi karena teori maskulinitas pada anak laki-laki.

Fungsi mainan anak perempuan dan laki-laki

Mainan anak perempuan lebih fokus pada penampilan fisik dan daya tarik. Mainan ini menonjolkan pengasuhan, ketrampilan rumah tangga seperti memasak. Jika anak perempuan hanya diberikan mainan tersebut bisa saja menguatkan ketrampilan mengasuhnya tapi akan kehilangan kemampan lainnya. Selain itu dirinya akan memiliki gagasan bahwa penampilannya harus menarik dan menjadi prioritas orang-orang disekitarnya.

Mainan anak laki-laki lebih mengajarkan kemampuan spasial. Mainan anak laki-laki cenderung kompetitif, agresif, dan mendorong pengambilan risiko. Selain itu juga mengajarkan anak tentang sains dan membangun struktur. Jika anak laki-laki hanya diberi mainan itu mereka mungkin akan lebih agresif dalam kehidupan nyata dan kehilangan ketrampilan lainnya. Seperti pengasuhan yang berorientasi tentang keluarga. Tentunya hal ini penting untuk dikembangkan karena anak laki-laki akan menjadi calon suami dan ayah nantinya.

Apa yang seharusnya dilakukan orang tua?

Orang tua sebaiknya memberi anak-anak kesempatan dan pengalaman untuk bermain dengan mainan yang beragam dan seluas-luasnya. Hal ini bertujuan agar anak menantang dirinya sendiri, mencari tahu apa yang menjadi minat dan bakatnya. Mencari tau apa yang mereka sukai dan kuasai akan memberikan banyak kesempatan belajar bagi anak.

 

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *