7 Kesalahan Orang Tua yang dapat Merusak Ketahanan Mental Anak

Keluarga. FOTO/Pixabay

Keluarga. FOTO/Pixabay

Mengasuh anak selalu dipandang sebagai kegiatan yang menyenangkan. Tapi peran mengasuh bukanlah perkara mudah. Tidak semua orang tua paham bagaimana cara mengasuh yang tepat dan baik untuk kondisi mental, emosional anak.  Menjaga ketahan emosional dan mental anak sangat penting agar anak siap menghadapi masalah di masa depan secara mandiri dan percaya diri.

Terkadang orang tua tanpa sadar telah melakukan kesalahan dalam mengasuh anak. Tracy Htchinson, PhD, LHMC seorang terapis yang ahli dalam psikologi positif, kesehatan mental, dan psikologi emosional menyebutkan setidaknya ada 7 kesalahan besar orang tua dalam mengasuh anak yang dapat merusak ketahanan mental.

  1. Meremehkan perasaan anak

Ketika anak mengungkapkan perasaanya kepada orang tua artinya anak telah berani dan percaya kepada orang tua untuk memberikan dukungan atas pengalaman yang dialaminya. Ketika orang tua memberikan respon yang meremehkan seperti “Ah itu bukan masalah yang besar,” atau “jangan terlalu sedih tentang masalahmu,” respon tersebut akan membuat anak merasa tertekan dan tidak penting.

Sebaliknya, jika anak sedang cemas khawatir atau ketakutan dan cenderung diam mulailah dulu bertanya. Melontarkan kalimat “Ibu tau, kamu sedang takut apa yang bisa membuatmu lebih nyaman?”  kalimat tersebut akan membuat mereka dapat mengelola emosinya. Selain itu mengajari mempraktikkan brainstorming sampai menemukan solusinya.

  1. Selalu membantu dan tidak tega melihatnya gagal

Setiap orang tua pasti tidak mau dan sedih jika melihat anaknya gagal dan melakukan tantangan yang sulit. Namun, ketika orang tua selalu menyelamatkan atau membantunya justru menjadi bumerang bagi anak. Misalnya ketika anak tidak bisa mengerjakan tugas sekolahnya dan orang tua selalu membantu menyelesaikannya hingga mengambil alih, tindakan tersebut tidak akan mengubah apapun. Anak akan tetap saja tidak dapat mengerjakan ketika di sekolah.

Ingat, kegagalan adalah kesempatan anak untuk terus belajar. Jika anak tidak pernah diberi kesempatan untuk mempelajari kegagalan, mereka tidak akan bisa mengembangkan kemampuan, ketekunan yang mereka butuhkan untuk bangkit.

  1. Memanjakan anak secara berlebihan

Ketika anak menginginkan sesuatu dan orang tua mampu memberinya, dengan sangat mudah akan menurutinya. Namun, penelitian menunjukakan jika orang tua selalu menuruti keinginan anak secara berlebihan dan apapun itu justru membuat anak kehilangan ketrampilan yang berkaitan dengan kekuatan mental dan kedisiplinan.

Orang tua tentu boleh memberikan apapun keinginan anak tapi dengan cara yang tepat. Orang tua perlu mengajarinya untuk mengendalikan diri dengan menetapkan aturan yang jelas. Seperti menyelesaikan tanggung jawabnya dulu, mengerjakan tugas sekolah, berhenti bermain gadget, atau membantu pekerjaan rumah.

  1. Menuntut kesempurnaan

Wajar ketika orang tua menginginkan anaknya menjadi yang terbaik dan berprestasi. Tapi menuntut dan menaruh ekspektasi yang terlalu tinggi tidak seharusnya dilakukan.  Menetapkan standar yang terlalu tinggi akan berpengaruh terhadap harga diri dan kepercayaan diri anak.

Untuk membangun kekuatan mental pada anak sebaiknya manaruh ekspektasi yang realistis. Karena dengan begitu anak justru akan merasa nyaman dan tidak tertekan kemungkinan berhasil jauh lebih tinggi.

  1. Memastikan anak selalu nyaman

Beberapa kondisi yang kadang membuat anak tidak nyaman biasanya berkaitan dengan pengalaman baru. Misalnya pergi ke sekolah baru, mencari teman baru, harus pindah rumah, bahkan makan makanan yang belum pernah dicobanya.

Jika orang tua selalu membuatnya nyaman dan tidak memberi motivasi justru akan membuatnya semakin sulit menghadapi masalah. Seperti kegagalan, orang tua perlu merangkul dan mendukungnya ketika anak merasa tidak nyaman hal itu akan meningkatkan kekuatan mentalnya. Dorong anak melakukannya agar dirinya menyadari tak sesulit yang kira.

  1. Tidak menetapkan batasan

Penting bagi anak untuk membuat keputusan sendiri, tapi pastikan anak memahami aturan yang ditetapkan orang tua. Contohnya jam bermain anak, kapan saatnya anak harus pulang dan melakukan tanggung jawabnya.

Kekuatan mental anak juga tergantung pada pentingnya batasan dan konsistensi yang diterapkan orang tua.  Sering menyerah dengan aturan yang dinegosiasi terlalu sering oleh anak akan merusak batasan dan aturan yang disepakati sebelumnya.

  1. Tidak memberi contoh dalam menjaga diri

Memberikan contoh seperti menjaga kebiasaan hidup sehat seperti olahraga, makan teratur, dan meluangkan waktu untuk istirahat penting bagi anak. Ketika anak tidak melihat orang tuanya menjaga diri secara fisik dan mental, tentu anak juga akan abai dan melakukan yang sama. Anak cenderung tidak peduli dengan kesehatan dan mentalnya.

Penting bagi orang tua untuk memberitahu dan melatih ketrampilan koping atau mengurangi stress dengan beristirahat, santai seperti minum teh dan membaca buku.

 

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *