7 Fase dalam Pernikahan yang Perlu Diktahui Pasangan Suami Istri

Pasangan. FOTO/Pixabay

Pasangan. FOTO/Pixabay

Sebelum menikah pikiran kita pasti tertuju pada perbedaan kehidupan sebelum menikah (single) dan kehidupan setelah menikah. Kita disibukkan dengan pemikiran perbedaan-perbedaan diantara keduanya. Pemikiran paling dominan biasanya soal kebebasan, tanggung jawab, dan waktu. Namun, dalam kehidupan pernikahan ternyata ada fase-fase yang berbeda, setidaknya ada 7 fase disetiap usia pernikahan yang berbeda.

Seiring berjalannya waktu suatu hubungan akan menegalami transformasi, namun ketika kita terjebak maka hanya saling menyalahkan dan membanding-bandingkan situasi dulu dan sekarang. Penting mengetahui 7 fase pernikahan agar pasangan suami istri dapat menghadapi penyesuaian dengan mudah.  Berikut 7 fase pernikahan yang dirangkum dari laman Everyday Health dan Marriage.

Fase Honey Moon

Fase indah diawal pernikahan, ada yang menyebut 1-2 tahun pernikahan bahkan ada yang menyebut hingga diusia 3 tahun pernikahan. Dimana pasangan suami istri saling jatuh cinta, kehidupan sangat romantis, dan idealis. Ditandai dengan keintiman karena pengaruh hormon endorfin dan seks, hal  ini penting untuk menjaga hubungan dan kepercayaan satu sama lain. Namun, perlu diketahui tahap ini sangat sensitif dan bisa saja mudah berubah.

Fase Penyesuaian

Pada fase ini pasangan suami istri dihadapkan pada suatu kenyataan dan kesadaran bahwa pasangan mereka bukanlah orang yang sempurna, ada kekurangan dan kelebihan. Berlangsung selama 3-5 tahun. Soal tanggung jawab, pekerjaan, mertua, mengurus rumah, membesarkan anak tentu menjadi persoalan yang harus sama-sama ditangani.

Ada kebiasaan dan kesalahan pasangan yang mungkin dianggap tak semanis pada fase honey moon. Tak perlu khawatir dari semua fase, fase kedua adalah dimana kedua pihak saling memperlihatkan jati dirinya. Selain itu semua fase  pernikahan pasti memiliki masalah termasuk pada fase honey moon. Kuncinya tetap menjaga komunikasi.

Fase Memberontak

Umumnya terjadi pada usia 7 tahun pernikahan. Pasangan suami istri menyadari bahwa mereka menikah dengan orang yang memiliki banyak kekurangan, serta ada perasaan ingin memberontak karena kecewa. Saling mengklaim kebenaran dengan ego masing-masing dan ingin mengubah pasangan sesuai yang diinginkan, bahkan muncul  “seven-year itch” yaitu masalah-masalah yang mengancam pernikahan seperti perselingkuhan, konflik, dan frustasi hingga ingin mengakhiri pernikahan.

Namun, fase ketiga adalah kesempatan untuk bertumbuh menjadi pribadi yang saling mengenali dan menghargai satu sama lain. Dengan komunikasi, rasa empati, dan kooperatif maka konflik dapat teratasi.

Fase Evaluasi Diri

Pada fase ini pasangan suami istri semakin terbiasa dengan situasi dan kebiasaan masing-masing. Menjadi pribadi yang dewasa dan menjadi panutan anak-anaknya. Berkomitmen dengan pernikahan  saling mengevaluasi diri untuk bekerja sama membangun rumah tangga dan meningkatkan kehidupan rumah tangga yang aman.

Ada perubahan besar dalam fase ini, biasanya pembelian rumah baru, bergabung dengan komunitas yang berpengaruh terhadap tujuan hidup dan lain-lain. Tahap ini dianggap sebagai tahap yang sangat mulus, meski waktu untuk seks dan saling mengungkapkan cinta tidak banyak. Dalam tahapan psikologi pernikahan, fase ini berlangsung lama hampir 20 tahun.

Fase Menerima dan Tumbuh Bersama

Setelah berhasil bertahan dengan kebosanan, konflik, dan godaan yang tidak mudah pasangan suami istri akan saling berdamai dan memberi kesempatan untuk menyesuaikan diri. Ketika anak tumbuh semakin dewasa dan karir sesuai harapan inilah waktu yang tepat fokus memperbaiki hubungan seperti tujuan awal.

Namun, usia paruh baya memiliki beberapa tantangan kesehatan dan keintiman. Penting untuk memperhatikan kesehatan fisik dan mental, jika dapat ditangani dengan kesadaran fase kelima akan menjadi fase yang memuaskan.

Fase Krisis di Masa Tua

Fase ini akan muncul perselisihan, karena usia tak lagi muda biasanya sekitar 40-50 tahun telah melewati puncak pernikahan serta karir mulai redup. Sehingga fase ini dianggap sebagai fase krisis. Ketakutan soal pensiun dan kehilangan pekerjaan yang sudah dekat dan kekhawatiran menghadapi masa tua.

Reaksi yang berlebihan, anak-anak yang tinggal berjauhan membuat pasangan suami istri merasa sendirian. Jika tidak dapat menjaga emosional bisa saja meninggalkan pasangan dan mencari kesenangan lainnya.  Semua itu akan memunculkan konflik, tuduhan, konfrontasi dan penyesalan. Berbeda dengan pasangan yang saling berkomitmen maka pernikahan akan tetap langgeng.

Fase Penyelesaian

Setelah melewati pasang surut kehidupan pernikahan akhirnya sampai pada titik dimana kedua pasangan berhasil tetap bersama. Beberapa pasangan mungkin akan merasa sangat puas menjalani sisa hidup mereka. Merasa menemukan orang yang tepat menua bersama. Fase ini pasangan suami istri akan merasakan momen yang stabil. Bahagia melihat anak cucu, kondisi finansial yang stabil, dan melakukan kegiatan yang diinginkan.

Setelah mengetahui fase-fase pernikahan dan kemungkinan masalah yang muncul pasangan suami istri dapat membantu menyelesaikan dan melewati tahun-tahn berikutnya.

 

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *