6 Tips Mendidik Anak agar Menjadi Remaja yang Baik

Mom. FOTO/Pixabay

Mom. FOTO/Pixabay

Salah satu kekhawatiran terbesar orang tua kepada anaknya, adalah ketakutan soal anaknya yang akan berbuat nakal, penuh masalah, pergaulan bebas ketika memasuki usia remaja. Perlu orang tua tahu bahwa semua bisa dikendalikan sejak anak berusia dini, dengan pengasuhan yang tepat anak akan menjadi remaja yang baik.

Stereotip yang buruk tentang remaja memiliki dampak yang besar bagi anak, penting bagi orang tua selalu berfikir positif bagaimana kelak anaknya tumbuh. Seperti diungkapkan seorang dokter anak dan salah satu direktur Pusat Komunikasi Orang Tua dan Remaja Rumah Sakit Anak Philadelphia Research Instititute, Kenneth Ginsburg, M.D., jika anak-anak selalu mendengar bahwa dirinya akan menjadi buruk saat remaja maka mereka juga akan berperilaku buruk. Sebaliknya, orang tua harus mengubah mindset tentang remaja dengan cara yang positif.

Selain mengubah mindset soal remaja yang nakal, faktanya kedekatan dan komunikasi yang dibangun orang tua sejak anak berusia dua tahun akan meemerikan dampak hingga anak berusia 12 hingga 22 tahun. Pernyataan ini disebutkan oleh seorang profesor di Institute  of Child Development di University of Minnesota, Stephanie Carlson, Ph.D.,. Maka sangat penting menerapkan strategi pengasuhan saat anak masih berusia dini. Berikut bebrapa tips yang bisa dilakukan orang tua agar anak tumbuh menjadi remaja yang baik.

  1. Membuat hierarki dan aturan

Membuat aturan yang jelas apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan penting untuk anak. Pentingnya membuat aturan sejak dini, selain menerapkan kebiasaan yang lebih baik juga meminimalisir perdebatan kelak saat anak memasuki usia remaja. Karena saat anak menjadi remaja dirinya dipenuhi dengan gejolak penolakan, sering mempertanyakan aturan. Hal tersebut wajar karena remaja mulai ingin membangun kemandirian dan menentukan keinginan.

Wajib bagi orang tua melakukan diskusi secara terbuka, namun tetapkan aturan yang memang tidak dapat dinegosiasi. Beberapa contoh aturan yang dapat diterapkan misalnya, menjaga kebersihan seperti harus mencuci tangan dll, menjaga kesehatan, cara berpakaian yang baik dan sopan sesuai situasi dan kondisi. Jangan lupa untuk menjelaskan alasannya kepada anak.

  1. Percaya kepada anak

Menurut Dr. Ginsburg remaja setidaknya membutuhkan satu orang tua yang mempercayainya tanpa syarat dan peduli dengan apa yang mereka pikirkan dan katakan. Perlu bagi orang tua mulai menaruh kepercayaan kepada anak sejak usia dini. Dengan begitu anak sadar bahwa selama ini orang tua telah membantunya ketika dirinya melakukan kesalahan. Seiring bertambahnya usia, anak paham bahwa orang tuanya yang membuat dirinya menjadi lebih baik.

Mungkin orang tua khawatir anak akan terpengaruh dengan teman dan lingkungannya. Percayalah ketika orang tua telah menetapkan aturan dan menaruh kepercayaan kepadanya pasti orang tua menjadi prioritas utama yang dipertimbangkan anak.

  1. Bantu anak mengatasi kecemasan

Berdasarkan hasil studi yang dipaparkan Kristin A. Buss, Ph.D., Kepala Departemen Psikologi di Penn State cara orang tua berinteraksi dan mengatasi ketakutan yang dialami balita memiliki efek jangka panjang pada anak ketika tumbuh dewasa. Biasanya, orang tua cenderung protektif ketika anak mengalami ketakutan dan kecemasan terhadap sesuatu sehingga orang tua memilih menjauhkan anak dari sumber kecemasannya. Cara tersebut dianggap tidak tepat, menurut Buss ketika anak takut dengan boneka sebaiknya orang tua tidak langsung menjauhkan anak dari boneka tersebut, tapi bantu mereka menenangkan dirinya dan yakinkan untuk memegang pelan-pelan.

Mendorong anak mendekati situasi yang menantang dapat meningkatkan kepercayaan diri pada anak. Hal ini sangat berguna bagi anak saat dirinya tumbuh sebagai remaja dan mengatasi “the anxiety peak of adolence” atau kecemasan yang sering terjadi pada remaja.

  1. Mendorong anak dengan perspektif positif

Remaja cenderung dramatis dalam menghadapi kekecewaan dan penghinaan. Sebagai orang tua kita bisa memulai meminimalisir hal tersebut sejak anak usia dini. Caranya mendengarkan dengan seksama ketika anak sedang mengeluh, memvalidasi masalahnya, dan kemudian membantu mereka mencari solusi.

Contohnya, ketika anak usia 5 tahun ingin menggambar laut tapi hanya ada spidol berwarna oren, tentu dirinya akan sedih dan bingung. Cara menanggapinya, tetaplah mengakui kesedihannya, bersimpati dan coba ajak melihat perspektif lain misalnya dengan menggambar ikan di lautan ikan-ikan berwarna oren.

Mendorong anak untuk melihat berbagai perspektif sangat membantunya dalam menangani kekecewaan dan menggali potensi positif lainnya. Hal ini sangat bermanfaat ketika dirinya menginjak usia remaja, agar lebih peduli terhadap sesama, memiliki pemikiran open minded, dan jelas apa tujuan hidupnya.

  1. Sabar

Kecepatan saraf balita memiliki kecepatan luar biasa, namun dibutuhkan waktu yang lebih panjang daripada orang dewasa agar sinyal dapat melewati neuron. Jika orang tua ingin mendidik anak dengan baik dan berhasil ketika tumbuh remaja maka bersabarlah. Jangan terburu-buru.

Sadarilah bahwa balita membutuhkan waktu lama ntuk memproses informasi. Dirinya akan meenyadari ketika orang tuanya sabar menunggu dirinya memahami informasi yang disampaikan akan membuatnya sadar tentang pertimbangan, konsekuensi dalam memandang situasi yang akan mereka hadapi kelak.

  1. Bercerita

Pola komunikasi yang tepat sebisa mungkin harus dibangun sejak anak usia dini. Hal ini berfungsi agar anak dapat terbuka kepada orang tua dalam menghadapi masalah. Salah satu cara yang bisa dilakukan adalah dengan bercerita. Sebaiknya orang tua sering membuka percakapan dan bercerita apa yang terjadi tentang hari ini, apa saja yang dilakukan.

Anak cenderung tidak akan menjawab dengan jujur jika orang tua langsung bertanya apa yang dialaminya karena merasa tidak nyaman. Namun dengan pola komunikasi dan kebiasaan yang dibangun anak akan lebih nyaman dan terbuka,usahakan untuk menjaga komunikasi hingga anak tumbuh dewasa.

Itulah beberapa cara agar anak tumbuh menjadi remaja yang baik, dimulai dari kebiasaan yang kecil tapi konsisten. Jika nilai-nilai yang ditanamkan orang tua sudah melekat dengan kuat, dimanapun anak berada nilai dan didikan orang tualah yang menjadi prioritasnya dalam melangkah dan mengambil keputusan.

 

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *