6 Masalah yang Sering Terjadi pada Pernikahan dan Solusinya

couple. FOTO/Pixabay

couple. FOTO/Pixabay

Menikah adalah keputusan menjalin komitmen seumur hidup. Hubungan yang telah dijalin lama sebelum pernikahan mungkin terasa seru dan penuh toleransi belum tentu menjamin keberhasilan dalam pernikahan. Banyak pasangan yang sering berkonflik tapi cenderung cepat mereda, ada juga terlihat adem ayem tanpa banyak bicara tiba-tiba cerai.

Hampir semua pasangan ingin rumah tangganya langgeng dan harmonis. Maka, yang perlu dilakukan adalah mencari solusi jika terjadi konflik rumah tangga. Menurut Terapis Pernikahan Keluarga dan penulis The Marriage Turnaround, Mitch Temple menjelaskan mereka yang cenderung berhasil mempertahankan pernikahan dengan masalah yang kompleks menyelesaikannya dengan beberapa cara. Ada yang banyak membaca buku maupun artikel mengenai self help, mengikuti seminar, pergi ke konseling, mengamati pasangan yang berhasil, dan ada juga menggunakan trial and error.

Masalah yang paling sering terjadi setelah pernikahan

Setidaknya ada 6 masalah yang sangat sering terjadi pada kehidupan pasca pernikahan dan solusi yang bisa dilakukan.

  1. Masalah Keuangan

Masalah sensitif dan perlu keterbukaan dari awal karena uang termasuk penunjang kehidupan setelah pernikahan. Jika tidak terbuka bisa-bisa menjadi sumber masalah yang terus terjadi misalnya soal sumber dana pernikahan dari tabungan atau berhutang sehingga perlu membayar cicilan paska pernikahan, jika tidak terbuka akan menjadi masalah yang terus diungkit.

Mengatasinya dengan cara terbuka dan jujur kepada pasangan soal keuangan masing-masing dari mulai gaji, tabungan dan tanggungan biaya setiap bulannya. Kedua, rencanakan anggaran dengan persetujuan mulai dari biaya makan kebutuhan sehari-hari dan lainnya. Ketiga, tentukan siapa bendahara dalam rumah tangga. Keempat, jangan saling menyalahkan jika ada pemborosan cek dengan bukti yang ada. Kelima, biarkan saling menyimpan uang pribadi diluar kesepakatan. Keenam, saling belajar soal keuangan.

  1. Komunikasi

Komunikasi yang sehat menjadi tolak ukur keberhasilan rumah tangga. Menurut peneliti John Gottman dan timnya memprediksi dengan tingkat kepastian yang sangat tinggi pasangan pengantin baru mana yang nantinya akan bercerai, berdasarkan pada dinamika komunikasi yang mereka lakukan.

Agar komunikasi tetap tejaga usahakan memiliki waktu 15 menit dalam sehari untuk saling bercerita secara dalam. Jangan sering melakukan interupsi ketika pasangan sedang menjelaskan atau mengngkapkan argumennya hindari kata “kamu selalu…”, “kamu enggak pernah…”. Tunjukkan dengan body language bahwa kita mendengarkan dan tidak mengabaikan pembicaraan pasangan, dengan mengangguk bisa menjadi tanda konfirmasi.

  1. Seks

Pasangan yang sudah saling cinta bisa saja terjadi ketidakcocokan secara seksual. Hal ini akan semakin buruk jika tidak ada kesadaran diri serta pengetahuan tentang seks. Seks pada suami istri akan menjaga kesehatan fisik dan mental karena bisa melepaskan hormon-hormon stress dalam tubuh selain itu akan membangun kemistri diantara keduanya.

Sempatkan waktu dan buatlah janji dengan pasangan. Terbuka membicarakan soal seks dengan pasangan. Bila terjadi masalah dalam seks jangan segan untuk lakukan konsultasi pada terapis seks bersama pasangan.

  1. Anak

Keputusan soal anak sangat penting bagi pasangan. Bagaimana keputusan apakah ingin memiliki anak atau tidak. Selain itu cara mendidik anak juga menjadi persoalan yang cukup rumit karena latar belakang suami istri yang dididik dengan cara yang berbeda. Masalah kompleks lainnya adalah soal peran yang bisa saja membuat suami istri saling menyalahkan.

Sebaiknya sebelum memutuskan memiliki anak samakan pandangan mengenai cara mendidik anak agar tidak terjadi konflik. Soal peran sebenarnya adalah tugas berdua karena anak memang membutuhkan kedekatan dari kedua sosok orang tua. Belajar soal parenting adalah kewajiban bersama.

  1. Konflik dan Perdebatan

Menurut Psikolog Susan Silverman, konflik memang menjadi bagian hidup. Namun jika setiap hari melakukan rutinitas yang sama berdebat dan berkonflik harusnya sudah mulai sadar untuk menghindari kebiasaan buruk ini. Berusahalah mengurangi emosi dan tenang dalam memandang masalah.

Sebaiknya ketika sedang berdebat, lakukan dengan argumen yang lebih tenang tidak saling membentak. Jangan selalu merasa menjadi korban dan jujurlah pada diri sendiri. Ketika berkomentar fikirkan bahwa, komentar yang disampaikan bertujuan untuk menyelesaikan konflik atau malah memberi balasan. Jangan lakukan interupsi untuk membela diri sebelum pasangan selesai memberi penjelasan. Jangan segan meminta maaf jika memang salah.

  1. Pekerjaan rumah tangga

Pada pemikiran tradisionalis mungkin akan melimpahkan semua urusan rumah tangga adalah tugas istri. Realita saat ini, ketika antara suami dan istri memiliki kesibukan lain dan harus tetap berkarir urusan pembagian pekerjaan rumah tangga menjadi penting. Agar tidak terjadi saling menyalahkan satu sama lain.

Buat aturan yang terorganisir mengenai pembagian pekerjaan rumah dan sepakati dengan berbuat adil. Jika memang tidak memungkinkan, carilah solusi lain misalnya dengan menggunakan jasa atau asisten rumah tangga.

Sebenarnya dari semua permasalahan pernikahan bisa saja diatasi jika diantara pasangan sadar dan saling memberikan perubahan. perubahan apa pun dapat membawa perubahan dalam dinamika hubungan, yang dapat membawa hasil positif.

 

 

 

 

 

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *